Merintis Konsorsium Riset

Tingkat hilirisasi invensi menjadi inovasi di industri di Indonesia masih rendah, baru sekitar 3-5 persen. Penyebabnya antara lain karena keterkaitan antara lembaga penelitian dan industri sangat lemah.

Sejumlah kendala menghadang riset teknologi untuk menghasilkan inovasi yang digunakan industri hingga produknya bernilai tinggi dan laku di pasaran. Kendala itu mulai dari minimnya sumber daya manusia yang handal dari tingkat terampil hingga menguasai teknologi. Ketiadaan infrastruktur di bidang riset dan di industri, serta tak tersedia dana yang memadai, hingga tiada dukungan regulasi dan manajemen yang kondusif. Belum lagi persaingan pasar juga ketat.

“Karena itu, untuk menekan kegagalan dalam berinovasi, harus dilakukan perubahan pedekatan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna” ujar Jumain. Prinsip itu dipegang semua kedeputian di Kemristek dan Dikti, yang lalu menjalin kemitraan internal.

Dalam hal ini digalang, kerjasama antara Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dan Direktorat Inovasi Industri, Direktorat Lemlitbang menjalani program pembinaan Pusat Unggulan Iptek (PUI) yang ada di lembaga pemerintahan dan perguruan tinggi. Direktorat Inovasi Industri yang menyediakan insentif bagi industri, memanfaatkan inovasi yang telah dihasilkan PUI.

 

Sejak 2011 hingga 2018, kata Patdono Suwignyo, Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Pendidikan Tinggi Kemristek dan Dikti, telah ada 106 lembaga litbang yang masuk dalam PUI. Dalam masa pembinaan selama tiga tahun, lembaga litbang dalam program ini harus memenuhi 27 indikator kinerja untuk meraih kategori utama dan unggul. Indikator itu antara lain menghasilkan publikasi ilmiah, paten dan prototipe, serta kontrak bisnis dalam jumlah tertentu. Selain itu ada peningkatan pendidikan S-3 bagi penelitinya dalam melaksanakan kegiatan ilmiah, seperti seminar dan kerjasama riset.

Saat ini, ada 46 PUI yang ditetapkan sebagai PUI tingkat unggul. “Predikat unggul diberikan kepada PUI yang berhasil menjual paling tidak satu produk inovasi secara massal,” ujar Patdono Suwignyo. PUI berkategori unggul juga telah dapat menghasilkan pendapatan dari paten dan prototipe yang dihasilkan, serta layanan bisnisnya.

 

Platform Sinergi

Kontrak bisnis yang dihasilkan PUI tingkat unggul dan utama dengan mitranya sejak 2011 mencapai 2.960. “Ini termasuk kerjasama dengan usaha kecil dan menengah,” ujar Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemristek dan Dikti Kemal Prihatman. Dari usahanya, PUI tingkat unggul telah dapat mandiri memenuhi biaya operasional dan risetnya.

Program PUI mulai tahun ini diperkuat dengan sarana Platform Sinergi Litbang Unggul Indonesia dan merekrut “Agen Riset” yang ditempatkan di industri. Tujuannya untuk membangun ekosistem riset yang berorientasi industri dan mengatasi ego sektoral.

Platform sinergi ini berbasis komputer yang akan mempertemukan keterkaitan antar-PUI, baik dalam satu klaster, antara lain pangan-pertanian, energi, kesehatan-obat, telekomunikasi, informasi dan komunikasi, material maju dan kemaritiman.

Menurut Koordinator Program PUI Yudho Baskom, telah ada 37 produk unggulan berpotensi inovasi yang akan dibuat sinergi PUI yang terbentuk.

Produk itu antara lain baterai litium, bioetanol berbasis aren, varietas unggul padi lahan rawa dan kering, bahan baku obat herbal, sistem pengemasan buah untuk tujuan ekspor, dan pengembangan sistem informasi untuk mitigasi bencana.

Melalui strategi ini, menurut Kemal, dicapai efisiensi anggaran pada program PUI hingga 30 persen. Tahun ini akan dialokasikan anggaran Rp. 41 miliar yang diberikan untuk mendukung proses akreditasi, penguatan kelembagaan, pendaftaran hak kekayaan intelektual, dan koordinasi dengan industri.

Pada tahap ini awal panggalangan kerjasama masih dalam konsorsium riset. Dengan membuka akses aktivitas. PUI dan hasil inovasinya ke publik terutama ke industri secara daring (online) yang didukung sistem big data.

Diharapkan terbentuk konsorsium lebih besar dengan melibatkan industri. Dalam lingkup kerjasama ini antara lain akan dirintis pengembangan desain N-219 versi amphibi, melalui kerjasama BPPT, LAPAN, dan PTDI, serta industri komponen pendukung.

 

Sumber: Harian Kompas (dimuat pada Sabtu, 19 Mei 2018)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top