Mahasiswa ITB Kembangkan Sistem Light-Fidelity (LiFi)

Mahasiswa program studi S1 Teknik Elektro, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Institut Teknologi Bandung mengembangkan sistem komunikasi berbasis cahaya tampak untuk keperluan akses internet. Produk tersebut dinamakan “Lumink” oleh tim yang terdiri atas 3 orang yakni Muh. Nurhidayat Haidir (13214062), Fuad Ismail (13214121), dan M. Sayyid M. F.  (13214020).

 

Lumink diperkenalkan dan didemokan dalam pameran Electrical Engineering EEDays 2018 di Aula Timur ITB. Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Prodi Teknik Elektro STEI ITB. Sebagai informasi, pameran EEDays 2018 menampilkan karya tugas akhir dari mahasiswa Teknik Elektro ITB. Selain pameran juga dilakukan sidang/ujian terbuka mahasiswa-mahasiswi pengembang karya-karya tersebut. Serangkaian kegiatan ini merupakan syarat kelulusan mahasiswa S1 teknik elektro ITB untuk mendapatkan gelar “S.T.”.

Tim ini dibimbing oleh Dr. Trio Adiono, S.T., M.T. (dosen KK ELKA dan ketua Pusat Mikroelektronika ITB) dan Dr. Ir, Amy Hamidah Salman, M.Sc (dosen KK ELKA dan anggota PME ITB) serta Syifaul Fuada, S.Pd., M.T. dan Erwin Setiawan, S.T., M.T. yang merupakan peneliti VLC di PME ITB sebagai pengarah teknis. Pembuatan Lumink memakan waktu kurang lebih 6 bulan.

 

Berdasarkan pemaparan tim saat sidang, latar belakang pengembangan alat ini sebagai alternatif akses internet cepat berbasis optik (cahaya tampak). Pasalnya penggunaan internet seperti sekarang ini sangat membutuhkan bandwidth yang lebar kaerna begitu banyaknya pengguna gadget. Disisi lain, kebanyakan koneksi nirkabel yang digunakan saat ini (berbasis frekuensi radio) memiliki lebar bandwidth yang terbatas. Dengan demikian tentu ada kebutuhan yang mendesak untuk sistem komunikasi nirkabel baru karena dikhawatirkan jika frekuensi nirkabel tidak menggunakan frekuensi selain radio maka kenyamanan pengguna internet akan terganggu.

 

Sementara itu penggunaan fasilitas internet oleh benda-benda juga diprediksi meningkat dengan adanya tren Internet of Things (IoT) yang mana nantinya akan semakin banyak peralatan sehari-hari yang akan mampu saling berkomunikasi dan dapat terhubung secara langsung ke internet. Dengan adanya tren IoT ini, selain dibutuhkannya koneksi internet dengan bandwidth yang besar, akan dibutuhkan pula koneksi internet yang sescure dikarenakan benda-benda yang terhubung bisa jadi menangani hal yang sensitif atau krusial bagi penggunaannya atau sistem secara keseluruhan.

 

Tim Lumink menuturkan bahwa VLC (Visible Light Communciation) atau komunikasi berbasis cahaya tampak, dapat menjawab keseluruhan permasalah yang telah dijelaskan sebelumnya. Tidak seperti standar komunikasi yang sudah umum digunakan, VLC menggunakan cahaya tampak, yaitu gelombang elektromagnetik pada frekuensi 430-770 THz, sehingga bandwidth yang tersedia menjadi jauh lebih besar, serta tidak lagi memenuhi spektrum gelombang radio pada umumnya yang sudah overcrowded. Dengan demikian, data rate yang jauh lebih tinggi, serta jumlah pengguna yang lebih banyak secara teoritis mampu dicapai. Selain itu, dikarenakan sifat cahaya yang tidak mampu melewati benda padat memungkinkan koneksi internet yang jauh lebih secure dikarenakan akan sulit untuk menyadapnya tanpa berada didalam ruangan yang sama dengan penggunanya, ungkapnya.

 

Lumink merupakan sistem komunikasi cahaya tampak dua arah (untuk downlink & uplink) dan diwujudkan dengan menggunakan LED 6 Watt sebagai antenna dan PIN photodiode sebagai sensor penerima cahaya untuk downlink. Sementara pada uplink, antena sistem memanfaatkan modul LED inframerah.

 

Berdasarkan pengukuran, Lumink mampu mengakses internet dengan kecepatan rata-rata 350 kbps dengan modulasi digital VPPM. Sistem ini dibuat dengan mengikuti standar IEEE 802.15.7 PHY II. Sementara jarak antara lampu LED dengan penerima adalah 110 cm dengan bantuan 2 lensa. Lumink diklaim menjadi prototip sistem LiFi pertama buatan Indonesia.

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top